Terimakasih
Cinta
ilma alia sari
Tuhan menciptakan makhluknya untuk mengisi dunia. Mengisi
kehidupan dan untuk menciptakan keindahan dunia. Manusia salah satunya, manusia
adalah makhluk tuhan yang penuh dengan kesempurnaan. Entah apa yang kurasakan
saat ini penuh kehampaan dan perasaan tak menentu.
Pagi buta vespa biru dengan nomor
polisi H 2106 VZ melaju menuju Rumah Sakit Pelita Asih . Ibu muda dengan
merintih kesakitan di bonceng dengan seorang pria bertopi hitam melaju dengan
tergesa-gesa, dengan asap yang mengempul dari vespa itu mulai mengiringi
perjalanannya.Pasangan muda itu baru akan di karuniai seorang anak pertama
mereka. Sesampainya di rumah sakit dengan merintih kesakitan, beberapa perawat
dan seorang bidan membantu ibu muda itu untuk melakukan persalinan. Dengan
persalinan normal lahirlah seorang bayi perempuan pada tanggal 29 maret 1995,
bayi cantik itu di berinama Ami Amelia . Pasangan muda itu sangat bahagia dan
sangat menunggu-nunggu kelahiran bayi pertamanya itu. Dan tepat 1 tahun kemudian
lahirlah adik Ami bernama Isa Rahardian. Isa panggilan akrabnya. Isa lahir pada
6 Desember 1996.
Mereka lahir di dalam lingkungan
keluarga yang berkehidupan pas-pasan . Ayahnya bekerja sebagai guru di sebuah
SMA swasta sedangkan ibunya bekerja menjadi guru SD disebuah kota di Semarang.
Meskipun kedua orang tuanya bekerja, penghasilan mereka hanya mampu untuk
mencukupi kebutuhan sehari – hari, maklum kedua orang tuanya tak bergaji besar.
Untuk tempat tinggal saja Ami dan keluarganya hanya tinggal di sebuah rumah
dinas milik Negara yang berada di belakang SD tempat ibu Ami bekerja. Ketika
malam Ami dan kelarga harus beristirahat dan tidur diberalaskan kasur tetapi
tak berdipan dan atap-atap rumah yang bocor ketika hujan mulai mengguyur
tempatnya tinggal.
15Tahun kemudian
Ami kini tumbuh menjadi sosok wanita
yang akan beranjak dewasa. Ami kini duduk di bangku kelas IX SMP Pelita Praja,
sebentar lagi Ami akan melaksanakan ujian nasional. Ami sempat khawatir
mengahadapi ujian nasional itu, ia memang salah satu siswa cerdas di
sekolahnya, namun beberapa bulan belakangan nilai try outnya sempat menurun
derastis, Ami tak tahu apa yang terjadi , ia sempat berfikir apakah karena
Gilang.
Gilang memang salah satu dari beberapa
lelaki yang berhasil meluluhkan hati wanita berparas cantik itu. Gilang mampu
membuat hati Ami bergejolak, memang baru kali ini Ami merasakan hatinya tak
karuan bila ia sedang bertemu dengan gilang. Gilang memang bukan lelaki tampan
seperti lelaki lain yang sedang mendekati Ami, namun Gilang bisa menerima
keadaan ami dan keluarganya yang berkehidupan pas-pasan, padahal gilang adalah
anak orang kaya.
Kini ayah Ami tak bekerja lagi sebagai
guru SMA, karena menurut ayah Ami, bekerja sebagai guru SMA tak membuat
perkonomian di keluarganya meningkat. Ayah Ami mencoba-coba berbagai usaha.
Mulai dari berdagang buah, sopir mini bus dan juga berjual sebagai penjual
bakmi pedas. Namun bakmi pedas yang ia
jual didekat salah satu Perguruan Tinggi negeri di Semarang itu, ternyata
banyak di sukai oleh para mahasiswa di sana. Padahal bakmi pedas itu dibuat
dengan resep coba-coba yang dibuat oleh sang istri tercinta. Kini usaha bakmi pedas itu mampu
membuat perekonomian di keluarga Ami meroket. Ami dan keuarganya kini tidak
tinggal lagi di rumah dinas milik Negara itu. Kini ia memiliki rumah sendiri
meskipun rumah itu memang tidak terlalu besar. Namun mereka semua hidup bahagia
disana.
Ami
kali ini tak ingin memiliki pacar
terlebih dahulu Karena ia ingin lebih fokus dengan Ujian Nasional yang sangat
menakutkan itu, namun Ami tak bisa menutupi rasa sayangnya terhadap Gilang. Ami
dilema dengan hal itu, sedangkan Gilang selalu membujuk Amia agar mau menerima
cintanya itu.
Akhirnya dengan bujukan teman-teman Ami, ia menerima cinta Gilang.
Kali ini Ami tak ingin memberitahukan hubungannya dengan ayah dan ibunya, Ami takut
jika ayah dan ibunya marah, karena Ami harus fokus dengan sekolahnya terlebih
dahulu. Padahal setiap kali ada lelaki yang mendekati Ami, ia selalu bercerita
kepada ayah dan ibunya. Sehingga setiap kali Gilang akan mengantarkan pulang Ami, Gilang tak bisa mengantarkannya didepan
rumah, namun hanya sekedar didepan gang rumah Ami saja.
Try out ke 2 sudah berlangsung, Ami
tinggal menunggu hasilnya,ia berharap bahwa hasil try outnya itu tak seburuk
hasil try out pertamanya. Namun, harapanya sia-sia hasil try out keduanya lebih
buruk dari try out pertamanya. Try out keduanya dua mata pelajaran tak mencapai
nilai ketuntasan. Ami tak berani memberikan hasil nilai itu ke ayah dan ibunya,
sedangkan ayah dan ibunya selalu menanyakan hal itu.
“ Ami mana hasil try out
keduamu nak? ” Tanya sang ibu dengan memberi senyuman kepada mia.
“ eeemm itu bu emm belum
di bagi bu .“ jawab Ami dengan raut wajah gelisah.
“oh ya sudah, besok kalo
sudah di bagi beritahu ibu ya nak ! “ kata ibu sembari membelai rambutku dan
meninggalkan aku di dalam kamar.
“maafkan aku ibu, aku
harus membohongimu, aku takut jika kau marah ibu, aku akan beri tahu hasilnya jika sku sudah siap.
“ batin Ami sembari menangis dan memeluk boneka pemberian Gilang.
Setiap
Ami bertemu dengan ibu ia mencoba menghindar, Ami tak tega melihat raut
wajahnya yang sudah sedikit berkriput. Ami gelisah menutupi hal ini, Ami merasa sudah
membuat ibu kecewa dan sedih. Ami selalu bertanya pada dirinya sendiri apakah
nilainya bisa turun sedrastis ini karena aku berpacaran dengan Gilang? Apa
karena Gilang aku menjadi malas belajar?. Ami sempat berfikir apakah Ami harus
menyudahi hubungannya dengan Gilang atau tidak. Ami sempat meminta putus dengan
Gilang. Namun, Gilang tak mau. Gilang bersikukuh untuk mempertahankan hubungan
ini. Ami tak bisa berbuat apa-apa.
3
bulan kemudian
Ujian
nasional sudah selesai, Ami sudah mendapatkan salah satu SMA negri di dekat
rumah Ami, perkembangan usaha bakmi pedas miik ayahnya pun berkembang pesat,
sehingga ayahnya mampu membeli apa yang Ami dan adiknya inginkan.
Kini Ami bersekolah di SMA Tunas
Hrapan satu sekolah dengan Gilang. Disana Ami mempunyai banyak teman, SMA Tunas
Harapan memang salah satu sekolah elit dikotanya, tak heran jika penampilan dan
gaya hidup Ami berubah semenjak masuk di sekolah itu dan bergaul dengan teman
barunya.sekarang sifat ami jauh berbeda dari dulu ketika SMP, Gilangpun
merasakan perubahan itu.
“ sayang, kenapa sekarang
sifat kamu berubah dari dulu?” Tanya Gilang yang tampak bijaksana.
“berubah apanya? Gak ah
sama aja, perasaanmu aja kali.” Cetus Ami wajahnya tampak kesal.
“ enggak, sekarang kamu
cuek,gaK perhatian lagi sama aku, kamu hobi banget belanja. Aku lebih suka kamu
yang dulu sayang.“ ujar Gilang
“ kalo kamu gak suka
yaudah kita udahan aja ! “ bentak Ami sembari meninggalkan gilang sendiri di
taman sekolah.
Ami
memang cewek popular di sekolahnya, ia memiliki paras yang cantik, juga
penampilan yang menawan tak heran jika semua lelaki disekolah terpusat pada
ami. Ami mampu menyudahi hubungannya dengan Gilang kapan saja dan mencari
pengganti Gilang sesuai hatinya. Namun ketika Ami akan menyudahi hubungannya
itu, Gilang selalu menolak, Gilang berusaha untuk mempertahankan hubungannya
itu. Karena Gilang sangat sayang dengan ami.
Suatu
saat ami ingin menyudahi hubungannya dengan Gilang, namun Gilang berusaha untuk
mengelak tapi apadaya usaha Gilang sia-sia hubungan yang hampir satu tahun itu
kandas di tengah jalan.
Gilang
tampak kecewa dengan hal itu. Ia berusaha melupakan ami dengan cara
membencinya.
Seminggu kemudian Ami ternya sudah berpacaran dengan kakak
kelas ia adalah anak orang kaya namanya Bintang, setiap ke sekolah Bintang
selalu menggunakan mobil , itu yang membuat Ami mau menerima cinta Bintang.
Setiap hari Ami selalu membanggakan Bintang di hadapan teman-temannya. Ami
selalu dimanjakan oleh bintang dengan dibelikan barang-barang kesukaannya.
Ketika Ami berpacaran dengan Bintang kabar tak enakppun datang
Ami dijuluki cewek matre di sekolahnya. Semua lelaki yang dulunya tertarik
dengannya mulai menghindar dan menjauhi Ami. Teman-teman Amipun mulai
menjauhinya. Mereka semua mulai risih dengan sikap Ami di sekolah yang selalu menghina dan menjelekan teman
yang berkedudukan jauh darinya.
Tapi
Ami tetap cuek dengan cibiran orang mengenai dirinya, Ami tidak peduli dengan
hal itu. Yang terpenting, ia selalu dimanjakan oleh Bintang.
Ketika ada salah satu teman Bintang
yang mengatakan kepadanya, jika Ami hanya memanfaatkan uang Bintang. Saat itu
juga Bintang marah dengan Ami, Ami mencoba meyakinkan Bintang . Namun, Bintang
tak percaya dengan hal itu.
Semenjak Ami putus hubungan dengan Bintang, disekolah Ami tak
memiliki teman dan selalu sendiri. Hari demi hari ia lewati sendiri Ami tak
tahan dengan keadaannya sekarang ini, ia mulai kembali dan meminta maaf
dengan Gilang karena Ami mulai berfikir
jika hanya Gilang yang dapat mengerti perasaannya.
Gilang mulai membuka pintu hatinya lagi dengan Ami, namun Gilang
menginginkan Ami berubah seperti dulu lagi, Amipun menerima persyaratan yang di
berikan oleh Gilang. Kini Ami berubah, menjadi wanita yang baik dan anggun, Ami
mulai memiliki banyak teman. Ami mulai hidup lebih bahagia . dengan Gilang,
sifat buruk yang ada pada Ami mulai hilang perlahan. Ami mulai menghargai
adanya perbedaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar